Aku sekarang sudah semester lima di salah
satu PTN jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Sesuai namanya, kegiatan kuliah
pasti nggak jauh-jauh dari bahasa Inggris.
Nah, ada satu mata kuliah yang menurutku
paling bikin repot sepanjang sejarah perkuliahanku. Pelajaran ini pelajaran Reading.
Reading selalu ada di tiap semester. Semester pertama reading-nya ‘implisit’ (seperti anak sekolahan), dan
semester-semester selanjutnya ‘eksplisit’. Kenapa eksplisit? Karena Reading jadi pelajaran tersendiri, tidak
seperti semester pertama yang dicampur tiga English
skills lainnya (writing, speaking,
and listening).
Semester kedua ada Literal Reading. Semester ketiga ada Interpretive Reading. Semester keempat ada Scientific and Critical Reading. Semester kelima ada Extensive Reading.
Mengaku saja, siapa sih yang pernah belajar
pelajaran Reading atau Membaca
(Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia)? Kalaupun ada, pasti sedikit, karena
bingung juga apa yang bisa dipelajari. Tidak seperti Matematika atau IPS yang
memang harus belajar karena ada sudah ada teori pastinya.
Namun walaupun tidak perlu teori yang njelimet, ternyata Reading itu diam-diam menghanyutkan, apalagi kalau bacaannya sudah
masuk level tinggi. Level tinggi yang dimaksud yaitu isi bacaan dan bahasanya
yang pakai bahasa baku nan kosakata yang masih asing. Jangankan Bahasa Inggris,
Bahasa Indonesiapun aku nggak ngerti. Contoh, waktu semester tiga aku dapat
mata kuliah Filsafat Bahasa. Sesuai judul matkulnya, materinya dibawakan dalam
Bahasa Indonesia. Buku yang dipakai adalah buku Filsafat Bahasa karangan...
siapa, ya?
Lupa, deh. Tapi walaupun berbahasa
Indonesia, jangan ditanya. Aku aja nggak ngerti bukunya ngomong apa! Halaman
demi halaman makin nggak ngerti si buku itu lagi ngebahas apa. Eits, bukan
bermaksud menghina bukunya lho, ya. Mungkin akunya aja yang nggak terlalu nyastra :D
Nah, hal yang sama berlaku bagi kelas Reading-ku. Kesulitan mulai tampak di
pelajaran Interpretive Reading, tapi
masih bisa dengan mudah kuatasi. Nah, masalah baru benar-benar muncul di matkul
Scentific and Critical Reading.
Dari judulnya saja sudah nampak kalau
bacaan yang digunakan itu bacaan ilmiah. Sudah bacaan ilmiah, disuruh bersikap critical, pula!
Mulai semester inilah aku merasa aku agak
sedikit ‘salah program studi’ :D . Aku ngambil prodi Pendidikan Bahasa Inggris,
jadi selain belajar Bahasa Inggris, aku juga belajar tentang pendidikan, mulai
dari pendidikan secara umum (matkulnya pakai Bahasa Indonesia), sampai
pendidikan secara khusus (tentang Pendidikan Bahasa Inggris).
Nah, masalahnya, mulai semester empat
inilah bacaan Reading-ku dikhususkan
HANYA dalam bidang pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa Inggris. Sebenarnya
aku bukan pengajar yang ideal (dalam artian, guru) karena, salah satunya, aku
orangnya nggak sabaran. Alasan kenapa aku dulu milih prodi pendidikan, hanya
aku dan Allah yang benar-benar tahu :P
Sudah bacaannya itu-itu aja (tentang
pendidikan), isinya ‘berbobot’ pula. Seringnya sih baca jurnal ilmiah. Jelas
bahasanya agak tingkat tinggi, apalagi yang menyangkut tentang serba-serbi educational research.
Tau apa yang tidak kusuka dari hal-hal yang
berbau ilmiah?
Selain karena ‘berbau’ IPA (walaupun
penelitian dan sejenisnya tidak selalu berkaitan dengan IPA), karena hal-hal
ilmiah bagiku merepotkan dan penuh dengan aturan dan keterikatan. Jujur saja,
aku tidak suka merasa terikat (walau aku tahu nggak ada yang mengikatku, cuma
merasa demikian saja) dan aku bisa cepat bosan kalau bergelut dengan satu hal terus.
Aku tidak punya jiwa peneliti seperti itu :P Aku masih ingat perjuanganku dulu
waktu sekolah menaklukkan Matematika dan IPA yang bagiku membosankan dan penuh
dengan aturan-aturan. Aku baru bisa bernapas lega kala kelas sebelas karena aku
masuk jurusan IPS yang menurutku lebih mudah, menyenangkan, dan ‘dinamis’.
Kembali lagi ke matkul Reading paling rempong itu. Matkul ini 4 SKS, yang menjadikannya terasa
sangat penting di mata para mahasiswa! Di matkul ini aku belajar hal-hal baru
yang menurutku ‘wow’. Hal-hal baru itu,
salah duanya adalah Annotated
Bibliography dan EndNote.
Annotated
Bibliography itu, secara garis besar, berisi
tentang pendapat kita tentang suatu bacaan. Hampir serupa dengan review, tapi berbeda. Perbedaannya...
apa, ya? Hehe... aku nggak bisa menjelaskan. Untuk perbandingan, lihat di
bawah.
A review made by me:
“An Intercultural Approach to English
Language Teaching” Book Review
An
Intercultural Approach to English Language Teaching is a book written by John Corbett. He is a researcher that has been travelled all around the
world in order to did research related to education.
Judging
from its title, this book’s topic is about intercultural approach in classroom
teaching, especially English language teaching. Again, judging from the word
“teaching”, this book was made especially for English teachers.
The writer wants the readers, especially
teachers, to be able to equip learners with cultural knowledge in the way of
exploring cultural difference so they can explore their own culture as well as
the target culture. It is hoped that learners are
able to negotiate the distance between their own and another culture; thus, they can be said as cultural
diplomats.
This book contains ten
chapters, but the most related chapter to the book title is the second chapter,
Implementing an Intercultural Approach. It reflects on the sub chapter Designing
Tasks for the Intercultural Classroom. In this sub chapter, the
writer mentions the task as consisting of six components which have to
be specified for any communicative activity: goal, input, activities, learner’s
role, teacher’s role, and settings. (Nunan, 1989: 10–11). These components can
be modified if the aim of the task is to raise cultural awareness as well as to
develop communicative skills. The following is the example of the goal that has
been specified: to research, describe and explain patterns of behaviour in a
certain community, such as youth subcultures, professional business people or
scientists, or Scottish country dancers.
I do agree with a
statement from the first chapter, An
Intercultural Approach to Second
Language Education. He
gives a statement that the ultimate goal of
an intercultural approach to language education is not so much ‘native speaker competence’ but rather an
‘intercultural communicative competence’
(e.g. Byram, 1997b; Guilherme, 2002). Intercultural communicative competence includes the ability to
understand the language and behaviour of the
target community, and explain it to members of the ‘home’ community – and vice versa. Learning a language is
impossible to be succeeding if learners do not employ this.
This book is helpful for
English teachers, yet it is not helpful enough on the other way. In every
chapter, the writer gives a short sight about what are the chapter going talked
about. He marks some important points of a chapter. Unfortunately, that some
important points do not stated clearly on the sub chapters. For example, in the
first chapter the writer marks one important point in the opening of the
chapter: A review of
the role of ‘culture’ in ELT. There is no sub chapter
that explicitly stated about it, or in other words, readers must search it
harder in order to find “the role of ‘culture’ in ELT”.
After
all, this book is a proper book in teaching English related to culture. There
are books that reviewed about language teaching/learning and culture, but I
think this book is the most relevant one, since from the title I could judge
it. The most important is, this book is ‘teaching a teacher how to use
intercultural approach in teaching a class”, not just explain the theory alone.
Aku rasa sudah banyak orang yang
paham tentang review, tapi kalau annotated bibliography?
Menurut panduan yang dikeluarkan The Learning Centre of the University of New
South Wales
(2006):
Contents of an Annotated Bibliography
An annotation may contain all or part of the following
elements depending on the word limit and the content of the sources you are
examining.
• Provide the full bibliographic citation
• Indicate the background of the author(s)
• Indicate the content or scope of the text
• Outline the main argument
• Indicate the intended audience
• Identify the research methods (if applicable)
• Identify any conclusions made by the author/s
• Discuss the reliability of the text
• Highlight any special features of the text that were
unique or helpful (charts, graphs etc.)
• Discuss the relevance or usefulness of the text for
your research
• Point out in what way the text relates to themes or
concepts in your course
• State the strengths and limitations of the text
• Present your view or reaction to the text
Ini adalah salah dua contoh annotated
bibliography yang pernah kubuat:
Contoh 1:
Research dilemmas: Paradigms, methods and methodology
Mackenzie, Noella, & Knipe, Sally. (2006). Research
dilemmas: Paradigms, methods and methodology. IIER, 16(2), 193-205.
Annotated
bibliography:
Research dilemmas: Paradigms,
methods and methodology is an article which is written by Noella Mackenzie and
Sally Knipe from Charles Sturt University. This
article is written for the new researchers who face the dilemma in using
the appropriate approaches for their researches. The discussion of research
paradigms, including definition and discussing the rule of paradigms is
concluded here. The following contents of this article are about how the
research paradigm and methodology are combined together. Quantitative and
qualitative methodologies are also discussed for the decisions the researchers
have to make.
The authors give this
article strength with presenting tables to show the kinds of paradigms, the
methods that are used in various kinds of those paradigms, and a diagram about
the research process. There is no research method used because the authors did
not do any research as this article already has real and reliable data to
support the topic. It is said that the research books are not usually helpful
because many of those books make the new researchers confused. The authors
strongly suggest combining the qualitative and quantitative methods for their
research articles. We think that the authors give a good suggestion; the
beginner researchers can use both quantitative and qualitative methods. The
beginner researchers can also look for another source besides the research
books they reference and discuss with their advisers or colleagues about what
should they choose among quantitative, qualitative, and mixed methods.
*
Contoh 2:
Annotated Bibliography:
The beliefs of two
expert EFL learners
The article examines the belief systems of two expert
learners and how they affect the learning process of those learners. The author
interviewed two expert learners who have different backgrounds. The first
participant is Kati. She was not interested in English at first, but after
knowing that she has relatives living in UK, she changed her mind. She went to
the UK to learn English in the ‘real’ context, not just learn it in a formal
way in school or university. She feels difficult in learning English in a
formal way. She thinks that if someone wants to learn foreign language, he must
learn it in where it is spoken. In addition, it is more important to be more
focused on domains where she good at, such as vocabulary and grammar instead of
pronunciation where she is not good at.
In contrast to Kati, another participant, Petra, has
passion in English since she was in school because she was good at it. She
thinks that studying foreign language abroad is a good idea; however, it is not
so important for her to go abroad for she can’t live far away from home more
than two weeks. She also adds that it is important to focus on all domains of a
language because if you want to good at something, you must work hard for it.
Petra’s beliefs appear to
be more stable and have changed little, however, Kati’s beliefs appear to be
much more domain-specific, dynamic and less stable.
Rather than describe one
set of learner beliefs as positive or negative, it will be more useful to think
that the learners’ belief systems are different, according to particular
individual background. In other words, there are many different possible
pathways to language learning success. From the case of Kati and Petra, we know
that we can success in the same thing with different backgrounds.
I can conclude that this article proves every person
has the same chance with other people in the same thing, just the process he
does different with others. When we learn something because we really like
it, the process of learning will be easier, whatever the process we do to reach
our goals.
Yang menjadi ciri khas dari annotated
bibliography yaitu adanya citation
di awal tulisan. Kalau di teks pertama itu citation-nya:
Mackenzie, Noella, & Knipe, Sally. (2006). Research
dilemmas: Paradigms, methods and methodology. IIER, 16(2), 193-205.
Sementara yang kedua:
Mercer, Sarah. (2011). The beliefs of two
expert EFL learners. The Language
Learning Journal, 39(1), 57-74.
Dalam membuat citation itu
maka kami diperkenalkan dengan software
yang berjuluk “EndNote”. Dosenku memang canggih, maklum lulusan Monash University,
Australia. ‘Hidup’ kami dipermudah dengan diperkenalkannya kami kepada software
ini. Software ini, katanya,
mempermudah kami terutama dalam membuat tulisan yang membutuhkan kutipan dari
orang yang berkompeten, seperti skripsi.
Tugas utama software ini adalah mempermudah pengguna
untuk mengutip pendapat para ahli dalam tulisan pengguna, juga mempermudah
pengguna dalam menyantumkan daftar referensi di akhir tulisan.
Awal-awal aku nggak
nyambung sama software ini. Maklum,
aku nggak interest sama matkulnya,
juga suka ngantuk di kelas (kebiasaan buruk!). Saking sebel, ngantuk, dan
malasnya waktu itu, ketika sang dosen menerangkan cara memakai EndNote untuk
tugas annotated bibliography kami
yang pertama, aku nggak memerhatikan. Padahal hari itu juga beliau menerangkan
apa itu annotated bibliography!
Alhasil, ketika jam berakhir dan sadar aku dalam kesulitan karena nggak tau
apa-apa, besok malamnya aku pergi ke kos temanku untuk minta diajari!
Dalam hati aku
menggerutu: ini matkul udah susah banget, 4 SKS, tiap Selasa dan Kamis, pula!
Jadi PR hari Selasa harus dikumpulkan paling tidak Rabu malam untuk dibahas
keesokan harinya di kelas. Ampun, pelajaran rempong seperti itu...
Jadilah Rabu
malam itu, beberapa jam sebelum deadline
pengumpulan tugas by e-mail, aku
bekerja keras menyelesaikan tugas itu dibantu temanku. Aku merasa panik sendiri
soalnya aku nggak tahu apa-apa. Dan sebelnya, tulisan yang sudah susah-susah
kubuat hilang begitu saja karena aku belum mahir pakai EndNote!
Langsung saja
aku mencak-mencak menyalahkan EndNote. Sejak saat itu aku mencap EndNote
sebagai software yang rempong dan
menyusahkan walaupun katanya sangat membantu. Siapa sih yang suka kalau tulisan
yang sudah susah-susah dibuat bisa hilang begitu saja? Karena kesal akhirnya
aku mengambing hitamkan EndNote. Ada benarnya juga sih, karena EndNote yang
ketika sudah diinstall langsung terintegrasi ke Microsoft Word itu memang cara
memakainya harus hati-hati, terutama bagi pemakai pemula. Jadi, pelajaran
bagiku sejak saat itu: jangan lupa selalu CTRL+S kalau mengetik, kalau perlu
buat cadangan karena kalau-kalau salah prosedur memakai EndNote, tulisan yang
hilang bisa diambil lagi di dokumen cadangan. Tapi sekarang aku sudah nggak
begitu, sih, sebab aku sudah lebih bisa pakai EndNote.
Setelah satu
semester yang penuh perjuangan, akhirnya semester empat sudah terlewati. Mulai
semester itu pula aku nggak mau sering-sering ngecek web siakad (sistem
informasi akademik), takut kalau ternyata nilaiku ‘jelek’ seperti semester
tiga.
Aku belum
mengecek nilai Scientific and Critical
Reading waktu nggak sengaja lihat status BBM seorang teman sekelas. Nggak cuma
dia sih, tapi teman-teman yang lain juga. Mereka pada senang karena si bapak
dosen matkul rempong itu berbaik hati memberi nilai yang bagus-bagus buat kami.
Karena ingin membuktikan, akhirnya aku buka siakad di bagian pengumuman nilai.
Aku lihat memang benar, ternyata sekelas dapat bagus-bagus semua! Hampir
semuanya A atau A-, hanya satu orang yang dapat B+!
Langsung saja,
aku yang mendapat nilai A bersorak senang, nggak nyangka bisa begini. Tadinya
kusangka aku bakal dapat nilai B atau paling mentok B+, ternyata Allah dan si
bapak menghargai kerja kerasku (juga kami). Aku sempat berpikir, ini akunya
yang memang pintar atau si bapak dosen yang melihat proses bekerjanya, bukan
hasilnya? Aku tahu beliau pasti tahu perjuangan kami menyelesaikan matkul ini
bagaimana, karena konten matkul ini bisa dikatakan baru untuk kami, dan juga...
sangat sulit.
Sebenarnya aku
tahu dari dulu kalau peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke
tepian” itu benar. Aku juga tahu kalau sesuatu yang tidak menyenangkan yang
terpaksa dijalani pasti membawa dampak positif di kemudian hari. Karena
pelajaran rempong itulah, otakku jadi lebih terbiasa dengan bacaan agak berat.
Aku juga tahu apa itu EndNote. Dulu aku suka cemburu sama teman lain kelas yang
pelajaran Scientific and Critical Reading-nya
diajar oleh dosen yang berbeda. Pelajarannya terkesan tidak seberat kelasku,
namun pada akhirnya, justru semester ini mereka yang kebingungan menghadapi
mata kuliah lain, terutama Quantitative
and Qualitative Analyses dan Educational
Research Method yang seluruh kelas (kelas A, B, C, D) diajar oleh dosen
yang sama, yaitu dosen Scientific and
Critical Reading-ku! Kami sekelas yang sudah terbiasa dengan cara mengajar
beliau tidak merasa sekaget dulu.
Memang, there is always rainbow after the rain,
walaupun matkul Quantitative and
Qualitative Analyses dan Educational
Research Method juga bikin repot!
0 Komentar