Sebenarnya ini sudah lama aku tulis sih. Iseng coba posting di blog lagi. Waktu lihat file di laptop, ada cerita ini yang belum sempat aku posting. Kejadian ini terjadi pada 7 Oktober 2015 (lama banget ya, aku aja heran).
*****
Baru saja
aku selesai kelas Bahasa Mandarin di Rumah Bahasa, aku langsung meluncur ke
bagian lain dari kompleks Balai Pemuda Surabaya. Kebetulan sedang ada book fair disitu. Sebenarnya dua hari
lalu sudah kesitu sih, tapi akhirnya kepingin kesitu lagi karena masih ada buku
yang masih dibeli. Mumpung murah, hehe. Buku-buku yang kubeli rata-rata
harganya 15.000, ada yang 12.000, malah ada yang 10.000. Kalau begitu yang ada
rasanya kalap pengen ngeborong seluruh isi pameran.
Biasanya
kalau sudah kalap belanja, rasanya rada khilaf begitu. Akupun demikian. Yah,
namanya juga cewek. Kalau belanja kan seneng, tapi kalau sudah kebanyakan
belanja jadinya khilaf deh. Tapi berusaha biasa saja dan menghibur diri. Buku kan bisa jadi investasi sampai nanti tua.
Nah, inti
ceritanya dimulai ketika aku keluar dari pintu exit ke tempat parkiran. Begitu turun meniti tangga, ada laki-laki
yang menawarkan koran. Kelihatannya sih masih bisa dibilang mas-mas gitu lah
ya. Yah, kalau baca koran sih mendingan pinjem aja daripada beli. Lagian, sudah
lewat maghrib juga. Pastinya itu koran sisa pagi tadi. Aku menolak mas-mas itu
dengan halus.
Ketika
sudah duduk di atas motor, aku inget kalau belum menukarkan struk belanja
dengan kupon undian. Aku balik lagi ke pintu masuk book fair. Setelah mengurus ini itu, aku balik lagi ke parkiran,
duduk di atas motor sambil main hape. Setelah cukup, aku pasang masker, siap
untuk pulang.
Nah, waktu
itu si mas-mas datang lagi, nawarin koran. Sama seperti sebelumnya, aku menolak
halus, namun aku masih disitu, belum bersiap untuk menegakkan motor. Mas-mas
itu, tanpa berusaha untuk kelihatan pantas untuk dikasihani, berkata kalau koran
yang dibawanya masih banyak. Benar juga, ya, padahal sudah semalam itu. Beberapa
jam lagi sudah ganti hari dan pastinya korannya tidak laku.
Dibilang
begitu, sontak hatiku terusik (heah, bahasanya bahasa novel amat). Aku
bertanya, “Jawa Pos berapa Mas?”
“Empat ribu
Mbak.”
Harga
normalnya sih lima ribu, tapi karena sudah malam ya jadi dimurahin. Refleks aku
ngulurin uang lima ribu sekalian.
“Sekalian
lima ribu aja ya, Mas.”
“Alhamdulillah,
barakallah, semoga berkah, Mbak.” Si Mas menerima uang dengan perasaan syukur
yang kentara sekali.
Nyessss....
rasanya hati ini campur aduk, antara terharu, tersanjung, bahagia, dan entah
apalagi. Dari tadi memang si mas perkataannya baik dan sopan. Kurang bisa
merinci, namun diantaranya yaitu si Mas masih sempet-sempetnya ngingetin aku
yang mungkin sedikit teledor di matanya. Mulai dari meletakkan hape sembarangan
di pangkuan sampai dompet juga.
“Hapenya
dibenerin dulu, Mbak, jangan ditaruh begitu, nanti jatuh.”
Sekitar dua
kali beliau mengingatkan begitu. Aku yang sudah biasa begitu hanya cengengesan.
Yah, mungkin menurutnya aku agak serampangan, menaruh hape dengan posisi yang
rentan membuat hapenya jatuh.
Yang
membuatku teringat pada beliau yaitu ekspresi bersyukurnya ketika menerima uang
dariku. Aku nggak bisa lupa itu. Aku bisa merasakan kalau beliau orang yang
tulus dari perkataannya yang sopan, tidak memaksa, dan tidak mementingkan
dirinya sendiri. Aku yang belum tentu membeli korannya, dengan baik hatinya
diperingatkan agar hati-hati memerlakukan hapeku, yang mungkin di matanya merupakan
suatu benda yang mewah. Padahal hapeku itu, walaupun android, termasuk agak
jadul jika dibandingkan dengan punya teman-temanku. Yang lain punya hape
keluaran terbaru, contoh saja samsul sampai apel, sementara hapeku sudah berumur dua tahun dan mulai
penyakitan. Untuk dipakai selfie pun
ga bagus, karena kamera depannya kurang bagus, tidak seperti punya teman-teman.
Sepeninggal
si mas koran, refleks aku langsung nangis. Perasaanku campur aduk, sampai aku
tidak bisa merangkai kata-kata untuk ditulis disini. Beneran. Sampai di jalan
raya pun aku masih nangis. Aku baru berpikir kenapa aku nggak kasih beliau uang
sepuluh ribu saja, namun aku punya pertimbangan. Aku takut kalau beliau merasa
tersinggung atau apa, namun setelah kupikir, tampaknya beliau bukan orang
seperti itu. Uang seribu rupiah saja sangat disyukuri, apalagi enam ribu
rupiah. Rasanya ingin ngajak ngomong si Mas sebenarnya, tapi takut mengganggu
pekerjaannya. Beliau dikejar waktu untuk menghabiskan dagangannya yang terancam
tak laku.
Aku masih
ingat ketika aku bertanya, “Jualan dari pagi?”
“Iya, Mbak.
Ya begini ini, kalau jualan kadang laku kadang nggak.”
“Jualan
dimana aja, Mas?”
“Dimana-mana
Mbak, ini dari tadi muter-muter.”
Ya Allah, speechless...
Aku mau
sharing ini bukan karena berniat riya’
atau bagaimana, namun hanya ingin sharing
pengalaman dan pelajaran hidup. Silahkan disimpulkan sendiri pelajaran dari
peristiwa ini, karena aku terlalu speechless
untuk merangkai kata inspirasi yang datang dari si mas penjual koran.
Right now, I am sitting here with the
newspaper I bought from him. May Allah always light his way and give much of
His blessings every day.
Uang yang kukeluarkan hanya lima ribu rupiah, namun
pelajaran yang didapatkan tak bisa diukur dengan uang. Kalau ada yang bilang
bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, pernyataan itu tidak
sebenuhnya benar. Buktinya, dengan mengeluarkan uang segitu, aku bisa bahagia,
lebih dari bahagia karena bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Jadi
dengan kata lain, aku telah membeli kebahagiaan itu, dengan uang pastinya.
0 Komentar